Satyam, Siwam, Sundharam

Senin, 26 Maret 2018

Kegiatan Saka Yoga Festival dan Tirta Yatra

Kegiatan Saka Yoga Festival dan Tirta Yatra

Cibubur- Minggu (25/3) dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 dilaksanakan Saka Yoga Festival yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek. Kegiatan ini juga menunjang program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Kementerian Kesehatan, terutama implementasi aktivitas fisik masyarakat.

"Dalam hal ini kesehatan fisik dan spiritual harus terjaga.  Kegiatan Saka Yoga Festival dalam rangka hari raya Nyepi ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mereformasi diri kita agar menjadi semakin baik. Pelaksanaan yoga ini lebih digiatkan lagi kepada seluruh lapisan masyarakat yang terutama adalah keluarga. Dengan demikian dapat mendorong pelaksanaan yoga yang maksimal dan masif sehingga hasilnya dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan setiap individu untuk menjadi insan yang lebih baik,” ungkapnya.

Gerakan yoga dimaksudkan untuk membudayakan perilaku hidup sehat guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Aktivitas fisik yang tepat, terukur dan teratur diharapkan akan menyehatkan bukan hanya fisik, melainkan juga mental spiritual masyarakat. Menteri Nila berharap agar peran serta masyarakat dalam kegiatan di bidang kesehatan, utamanya promotif, preventif, termasuk Germas akan semakin meningkat di masa mendatang.

Germas adalah bagian dari upaya promotif-preventif guna mengubah pola pikir (mindsetting) dari paradigma sakit menjadi paradigma sehat. Upaya ini akan berhasil jika semua elemen masyarakat turut mensukseskannya, dan memberikan teladan bagi masyarakat di lingkungan kita dengan berperilaku sehat. “Sebab kesehatan adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Oleh karena itu harus selalu kita jaga dan pelihara dengan sungguh-sungguh sepanjang hidup kita.

Kegiatan ini didukung oleh kurang lebih 2000 Peserta yang berasal dari umat Hindu di sekitar Jabodetabek. Di dukung oleh puluhan Instruktur Yoga dari Seruling Dewata. Dalam kesempatan ini  78 siswa yang berasal dari Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram dan Pura Angkasa Amertha Dharma Jati pun ikut meramaikan acara Saka Yoga Festival ini. Sekitar pukul 05.00 WIB mereka bersiap berangkat menuju ke lokasi yoga yaitu lapangan Kempa I Garuda Bumi Perkemahan dan Wisata Pramuka (Buperta), Cibubur, Jakarta Timur.

Sesampainya dilokasi, para siswa dan orang tua langsung registrasi serta menempati posisi masing-masing,  tak lupa menggunakan matras sebagai alas. Para peserta sangat antusias mendengarkan instruksi dari Instruktur Yoga. Diawali Pavana Muktasana sebagai gerakan awal pemanasan dalam yoga.


Selanjutnya para peserta melakukan Gerakan Surya Namaskar dan Candra Namaskar. Perlu diketahui bersama bahwa Chandra Namaskar adalah refleksi dari Surya Namaskar (Penghormatan kepada Matahari), bulan tidak memiliki cahaya sendiri tetapi memantulkan sinar matahari. Urutan asana sama dengan Surya Namaskar kecuali Ardha Chandrasana dilakukan setelah Ashwa Sanchalanasana. Chandra Namaskar paling baik dipraktekkan di malam hari, terutama saat bulan terlihat. Sementara berlatih di malam hari, pastikan perut dalam keadaan kosong.
Chandra Namaskar membantu kita menghubungkan diri dengan Energi Bulan, yang memiliki sifat sejuk, santai, dan berseri. Chandra Namaskar juga memperkuat tulang belakang, paha belakang, dan punggung kaki; memperkuat otot kaki, lengan, punggung, dan perut. Seperti semua praktek yoga lainnya, penting bahwa ketika Anda belajar Chandra Namaskar harus di bawah pengawasan dan bimbingan. Serta diperlukan Persiapan Sebelum Melakukan Yoga.
Beberapa pose kombinasi diinstruksikan antara lain Garudasana dan Dhanurasana. Pose yoga Dhanurasana mampu merenggangkan otot perut dan meningkatkan fleksibilitas tubuh, terutama tulang punggung. Pose ini memiliki efek menenangkan di seluruh tubuh. Dengan melakukan pose yoga ini, lemak di perut dan punggung juga berkurang.

Teriknya sinar matahari tidak membuat surut semangat para peserta mengikuti instruksi yang disampaikan oleh Instruktur. Hingga akhirnya relaksasi dilakukan. Para peserta mengikuti kegiatan ini mendapatkan banyak manfaat  selain kesehatan dan kebugaran juga mendapatkan pengetahuan baru tentang pose yoga yang belum pernah dilakukan dilingkungan pura masing masing.  Selain itu pengetahuan tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum melakukan yoga.

Selain mengikuti kegiatan Yoga massal ini, siswa Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram juga lagsung melaksanakan tirta yatra ke Pura Penataran Agung Kertha Bumi Taman Mini Indonesia Indah. Disana mereka disambut oleh pengurus pura dengan ramah. Dengan diiringi hujan deras pinandita memimpin persembahyangan bersama, iringan genta dan lantunan mantra menambah suasana semakin kidmat. 

Mengunjungi tempat suci atau tirta yatra merupakan sebuah bhakti siswa Hindu. Selain memupuk kecintaan para siswa terhadap tempat suci Hindu juga menumbuhkan rasa kebersamaan antar siswa dengan umat Hindu di wilayah lain.


"Kita melaksanakan Yoga di Cibubur untuk menjaga kesehatan Jasmani sedangkan dengan kegiatan Tirta Yatra ini  kita menjaga kesehatan rohani. Sehingga lengkap sudah" tandas Paryanto,S.Ag pada saat menyampaikan sambutannya. 

Menurut dia, Yoga sudah menjadi kegiatan rutin bagi siswa Pasraman Ganesha. Kegiatan Yoga dilakukan setiap minggu ke 4. Sedangkan kegiatan Tirta Yatra ini akan menjadi program tahunan yang dilakukan. (ary).


Kamis, 22 Maret 2018

Konsep Catur Yoga sebagai Dasar Pemujaan

Konsep Catur Yoga sebagai Dasar Pemujaan

Apakah arti memuja itu? Apakah pemujaan itu sekedar menangkup tangan, atau sekadar mengucapkan doa dan lagu pujian? Ataukah sekadar memikirkan tentang Tuhan. Apakah pemujaan itu berarti penghormatan yang mungkin bersifat duniawi? Hal ini tidak pernah dijelaskan dengan tepat. Sekadar sujud saja belum berarti memuja. Begitu pula sekadar menyanjung dalam lagu dan nyanyian belum tentu memuja. Banyak nyanyian yang kita dengar dalam upacara keagamaan atau dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah itu termasuk pemujaan atau bukan?

Manusia melagukan nyanyian-nyanyian tentang kebahagiaan, tentang cinta, tentang penderitaan. Semuanya adalah kata hati yang digambarkan. Kita melagukan kebesaran Tuhan, berarti kita menyanyikan tentang kemuliaan Tuhan. Pendeknya banyak yang kita dengar dan kita lakukan. Kita menghormati dan sujud kepada orangtua, kita hormat kepada para pendeta. Semuanya juga berarti macam-macam. Untuk memperingati atau menghormati jasa seseorang kita mencontoh dan menggambarkan semua perjuangan atau tingkah laku orang yang kita agung-agungkan itu. Hal ini merupakan penghormatan atau pemujaan. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk menggambarkan arti kata pemujaan yang sebenarnya. Yang terpenting dalam pemujaan adalah sifat menyerahkan diri sepenuh hati kepada yang dipuja. Jadi sifat bhakti dan dengan menghubungkan diri kepada yang dipuja.

Hindu memberikan penjelasan tentang dasar mengapa harus menghubungkan diri dengan Tuhan. Dalam Kitab Manu Smrti dikemukakan :

"Pikiran yang kotor dan tidak baik harus diperbaiki dan disucikan dengan membaca-baca mantra atau kitab-kitab Veda. Badan yang kotor harus dibersihkan dengan jalan mandi. Benda-benda yang kotor harus dibersihkan dengan air, api atau benda-benda pensuci lainnya. Perkataan yang kotor harus diganti, dan belajar berkata-kata yang baik, kata-kata halus dan budi bahasa yang baik. Mereka yang dalam keadaan suci seperti inilah yang dikatakan layak bersembah bakti pada Tuhan"

Dengan kata lain ketentuan itu wajib sifatnya dan karena itu orang yang tidak memenuhi syarat doanya akan sia-sia saja, karena yang Maha Suci, Tuhan hanya terjangkau oleh sifat kesucian dan kebajikan manusia penyembahnya sendiri, sesuai menurut aturan yang telah ditentukan (Rg. Veda IX.73.6).

Svāmī Harshānanda dalam bukunya yang berjudul Deva-Devi Hindu, menyatakan bahwa konsep Tuhan Hindu memiliki dua gambaran khas, yaitu tergantung pada kebutuhan dan selera pemuja-Nya. Dia dapat dilihat dalam suatu wujud yang mereka sukai untuk pemujaan dan menanggapinya melalui wujud tersebut. Dia juga dapat menjelmakan Diri-Nya di antara makhluk manusia untuk membimbingnya menuju kerajaan Kedewataan-Nya. Penjelmaan ini merupakan suatu proses berlanjut yang mengambil tempat di mana pun dan kapan pun yang dianggap-Nya perlu. Kemudian ada aspek Tuhan lainnya sebagai Yang Mutlak, yang biasanya disebut sebagai “Brahman”; yang artinya besar tak terbatas. Dia adalah ketakterbatasan itu sendiri. Namun, Dia juga bersifat immanent pada segala yang tercipta. Dengan demikian tidak seperti segala yang kita kenal bahwa Dia menentang segala uraian tentang-Nya. Telah dinyatakan bahwa jalan satu-satunya untuk dapat menyatakan-Nya adalah dengan cara negatif: Bukan ini! Bukan ini! Jadi untuk sekadar memuaskan pikiran manusia yang terbatas, untuk menggambarkan yang tak terbatas, pikiran manusia yang terbatas perlu dijelaskan untuk memuaskannya, yaitu pertanyaan mendasar tentang siapakah yang dimaksud dengan Tuhan itu? Jawaban atas pertanyaan ini merupakan dasar dalam pemberian definisi tentang Tuhan. Walaupun pendefinisian tentang Tuhan tidak mungkin, namun untuk keperluan praktis dalam pembahasan ini difinisi Tuhan diperlukan sebagai titik tolak berpikir. Kesulitan dalam memberi definisi karena suatu definisi yang baik harus benar-benar memberi gambaran yang jelas dan lengkap, sedangkan Tuhan mencakup pengertian yang luas dan serba mutlak. Untuk pertama kali definisi tentang Tuhan dijumpai dalam kitab Brahma Sūtra I.1.2 sebagai berikut.

“Janmādyasyayatah”

Terjemahannya.
“(Brahman adalah yang Maha Tahu dan penyebab yang Maha Kuasa) darimana munculnya asal mula dan lain-lain, (yaitu pemeliharaan dan peleburan) dari (dunia ini)”.

Lalu bagaimana cara menghubungkan diri dengan Tuhan menurut Hindu? Menghubungkan diri artinya melakukan Yoga. Yoga berasal dari kata Yuj dan dari kata itu kemudian lahir kata yoga. Cara melakukan hubungan inilah yang disebut sembahyang, atau memuja menurut bahasa Sansekerta.

Kitab Rg. Veda X.71. mengemukakan ada empat jalan atau cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk sampai kepada Tuhan. Keempat cara atau jalan (Marga) itu disebutkan sebagai berikut.
a. Dengan cara menyanyikan lagu-lagu pujaan.
b. Dengan cara mempelajari dan mengenal Tuhan kemudian mengajarkannya.
c. Dengan cara melakukan yajna dan memenuhi aturan yang digariskan.
d. Dengan cara membaca doa-doa mantra.
Keempat cara itulah yang mula-mula telah dikemukakan yang lazim dilakukan oleh orang-orang pada waktu itu. Dari ajaran itu kemudian dikembangkan menjadi beberapa marga (yoga) yang kita kenal berikut ini.

1. Ajaran Bhakti Marga (Yoga)
Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhakti Yoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora dan menyerap segalanya. Cinta kepada Tuhan harus selalu diusahakan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi. Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya. Kama (keinginan duniawi) dan tresna (kerinduan) merupakan musuh dari rasa bhakti. Selama ada jejak-jejak keinginan dalam pikiran terhadap objek-objek duniawi, seseorang tidak dapat memiliki kerinduan yang mendalam terhadap Tuhan. Atma-Nivedana merupakan penyerahan diri secara total setulus hati kepada Tuhan, yang merupakan anak tangga tertinggi dari Navavidha Bhakti, atau sembilan cara bhakti. Atma-Nivedana adalah Prapatti atau Saranagati. Penyembah menjadi satu dengan Tuhan melalui Prapatti dan memperoleh karunia Tuhan yang disebut Prasada. Bhakti merupakan suatu ilmu spiritual terpenting, karena mereka yang memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesungguhnya kaya. Tak ada kesedihan selain tidak memiliki rasa bhakti kepada Tuhan.

Ilustrasi. Membuat Banten merupakan salah satu wujud aplikasi ajaran Bhakti Yoga

2. Ajaran Jnana Marga (Yoga)
Jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Moksa (tujuan hidup tertinggi manusia berupa penyatuan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa) dicapai melalui pengetahuan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau Brahman. Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari Brahman. Avidya bertindak sebagai tirai atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan. Pengetahuan tentang Brahman atau Brahmajñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat- Cit-Ananda Svarupa (sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran-kebahagian
mutlak) dirinya.

Jnana bukan hanya pengetahuan kecerdasan, mendengarkan atau membenarkan. Ia bukan hanya persetujuan kecerdasan, tetapi realisasi langsung dari kesatuan atau penyatuan dengan yang tertinggi yang merupakan paravidya. Keyakinan intelekual saja tak akan membawa seseorang kepada Brahmajnana (pengetahuan dari yang mutlak). Pelajar Jñanayoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu: (1) pembedaan (viveka), (2) ketidakterikatan (vairagya), (3) kebajikan, ada enam macam (sat-sampat), yaitu: (a) ketenangan (sama), (b) pengekangan (dama), (c) penolakan (uparati), ketabahan (titiksa), (d) keyakinan (sraddha), (e) konsentrasi (samadhana), dan (f) kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva). Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk di depan tempat duduk (kaki padma) seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda (Srotriya), tetapi juga bagus dalam Brahman (Brahmanistha). Selanjutnya para siswa melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keraguraguan. Kemudian melaksanakan meditasi yang mendalam kepada Brahman dan mencapai Brahma-Satsakara. Ia seorang Jivanmukta (mencapai moksa, bersatu
dengan-Nya dalam kehidupan ini.

Ilustrasi. Mengajar merupakan salah satu wujud aplikasi ajaran Jnana Yoga

3. Ajaran Vibhuti Marga (Yoga)
Vibhuti Marga (Yoga) merupakan jalan penghayatan terhadap kebesaran dan kemuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sinar-Nya sebagai simbol keindahan, kemuliaan jiwa, kebenaran, Rta, kebaikan, kebahagiaan, kekekalan, Tuhan dan lain-lain melalui jalan spiritual (pemikiran) oleh para Maharsi guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan umatnya. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatan tersebut dilukiskan secara lahiriah dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya.

4. Ajaran Karma Marga (Yoga)
Karmayoga adalah jalan pelayanan yang membawa pencapaian menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karmayoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang Karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang Karmayogin tidak terikat oleh karma (hukum sebab akibat), karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5. Ajaran Raja Marga (Yoga)
Rajayoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri, pengendalian diri, dan pengendalian pikiran. Rajayoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin fisik, sedangkan dalam Rajayoga
terdapat disiplin pikiran. Raja Marga Yoga hendaknya dilakukan secara bertahap melalui Astāngga yoga yaitu delapan tahapan Yoga, yang meliputi yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.
Ilustrasi. Melantunkan Puja Tri Sandhya merupakan salah satu wujud aplikasi ajaran Raja Yoga
Apa yang telah diturunkan hanya merupakan dasar yang belum sempurna karena ternyata dari Rg Veda 1.31, ditegaskan bahwa ajaran mengenai cara menuju Tuhan itu agar dikembangkan lebih jauh dengan memperbaiki. Perbaikan perbaikan itu berjalan pada hakikatnya tergantung pada kemajuan cara berpikir dan filsafat yang dianutnya. Dalam hal ini terjadi proses pembudayaan tentang ajaran jalan menuju Tuhan sampai pada apa yang kita jumpai dalam bentuk seperti sekarang ini. Pembaharuan cara, pengembangan sistem bagaimana cara menjalankan jalan yang telah digariskan bukan satu dosa karena pasal-pasal dari Rg. Weda sendiri hanya menganjurkan. Anjuran tidak berarti harus, tetapi baik jika dilakukan. Yang terpenting dalam pengertian cara sembahyang itu ialah keharusan agar seorang yang hendak sembahyang harus dalam keadaan suci dan baik. Suci dan baik tidak hanya suci karena mandi saja tetapi juga suci karena tingkah laku. Terima Kasih.





Minggu, 18 Maret 2018

Rangkaian Upacara Menyambut Hari Raya Nyepi

Rangkaian Upacara Menyambut Hari Raya Nyepi


Di Tahun 2018 kali ini Ada yang istimewa, perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada Hari Sabtu, 17 Maret 2018 bertepatan dengan perayaan Hari Raya Saraswati. Dimana Hari Raya Saraswati merupakan hari raya turunnya atau diwahyukannya kitab suci Veda. Hal ini sangatlah langka terjadi karena hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Merupakan momen yang baik bagi kita umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti kita, menuju kebaikan spiritual.

Persiapan Perayaan Hari Raya Nyepi dan Saraswati di Indonesia sudah dilaksanakan dari dua minggu yang lalu. Dari tingkat nasional sampai dengan tingkat kabupaten kita umat Hindu mempersiapkan sarana Upacara. Hal itu tidak terkecuali bagi Umat Hindu pengempon Pura Angkasa Amertha Dharma Jati, yang berlokasi di Komplek Lapangan Udara Atang Sanjaya -Bogor. Para umat Hindu di pura tersebut jauh-jauh hari membersihkan area pura dan sebagai puncaknya pada hari Jumat, 16 Maret 2018 melaksanakan beberapa rangkaian upacara antara lain :


Nuntun (Ngias) Ida Betara

Rangkaian Upacara ini dilaksanakan dengan menghaturkan Banten sesaji disekitar Pura Angkasa Amertha Dharma Jati. Selanjutnya dilaksanakan persembahyangan Nuntun Ida Betara yang dipimpin oleh Jero Mangku Made Warda. Persembahyangan ini dilaksanakan dengan penuh kidmat. Pada pukul 8.30  Para umat diarahkan untuk Persiapan ke Beji. Beji atau sumber air merupakan tempat pelaksanaan Upacara Melasti. Dalam ajaran Hindu, proses melasti dapat dilaksanakan di Laut atau sumber air. Karena proses Melasti merupakan proses penyucian kotoran yang berasal dari jasmani kita. Oleh karenanya Melasti berasal dari kata "Mala" dan "Asti"  Mala artinya Kotoran dan Asti berarti membersihkan.  Sehingga umat Hindu mempercayai bahwa dengan upacara melasti di Laut atau disumber air dapat membersihkan kotoran jasmani sebelum melaksanakan catur brata penyepian. Selain itu dalam prosesi melasti ini yang terpenting adalah mengambil tirta suci dan pembersihan senjata Ista Dewata.



Melasti

Pukul 09.00 iring iringan perjalanan ke Beji. Dengan diiringi alunan beleganjur, iring-iringan berjalan pelan menuju sumber air yang berada tidak jauh dari lokasi Pura Angkasa Amertha Dharma Jati. Sesampainya di beji Jero Mangku Wayan Sudiarsa melakukan puja astawa kepada Dewa Baruna dengan diiringi kidung suci oleh sekehe Kidung.  Suara genta mengalun sembari mantra-mantra Veda dilantunkan, terasa kesakralannya. Setelah puja astawa selesai kemudian dilaksanakan Persembahyangan, nunas tirtha dan rangkaian upacara melasti yaitu pengambilan air suci dan penyucian senjata dewata nawa sanga.

Sekitar pukul 11.00 iring-iringan melasti dari Beji telah kembali. Sesampainya di Pura Angkasa Amertha Dharma Jati dilanjutkan dengan persembahyangan ngelinggihan Ida betara yang dipimpin oleh Jero Mangku Made Warda. Dalam proses ngelingihan Ida Betara, disambut dengan tari Pendet yang diantara penarinya berasal dari Siswi Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram. Dalam perayaan hari raya Nyepi Tahun ini, siswa-siswi Pasraman dilibatkan dalam baleganjur, tari pendet dan dharma wacana. Ni Made Dewi Bharata Putri mengisi sesi dharma wacana sebelum persembahyangan  dimulai. Made Dewi mengulas tentang rangkaian hari raya Nyepi. Keterlibatan anak-anak dalam momen hari raya memang sangat diperlukan sebagai wahana menguji kemampuan dan belajar menyampaikan wacana kepada umat, sehingga hal tersebut perlu dipupuk lebih dini. Kemudian, dharma wacana dilanjutkan oleh Bapak I Wayan Sulaba. Persembahyangan bersama dipimpin oleh Jro Mangku Made Warda dan dilanjutkan nunas tirtha. Hingga prosesi ngelinggihan Ida Betara selesai.


Tawur Agung Kesanga

Setelah istirahat dan makan siang, para umat berkumpul dipelataran Kanista Mandala untuk mengikuti prosesi Mecaru Tawur Agung. Upacara Tawur Agung ini dipimpin oleh Jro Mangku Wayan Putra. Mantra dilantunkan dengan diiringi alunan genta dan Kidung. Prosesi Tawur dimulai.  Prosesi Mecaru Tawur Agung secara nasional juga dilaksanakan di Candi Prambanan, Magelang, Tengah yang dihadiri oleh umat Hindu sekitar yogyakarta, Klaten dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh Bapak Menteri Agama, Lukman Hakim  Saifuddin. Prosesi Tawur Agung merupakan prosesi penting sebelum umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian karena tujuan dari Prosesi Tawur adalah menyucikan alam semesta. Seperti dijelaskan dalam lontar "Sang-hyang Aji Swamandala" adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani." 


Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.


"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha, kama, moksha." 


Artinya:

Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.

Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi Manusia secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya.
Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa.

Upacara Tawur Agung ditutup dengan melaksanakan Purwa Daksina. Prosesi ritual mengelilingi atau mengitari areal Pura sebanyak tiga kali dari arah timur ke selatan yang dalam pengider-ider Bhuwana sebagai simbol Utpti, stiti, pralina selain itu juga tentang pemutaran gunung Mandara oleh para Dewa dan raksasa untuk memperoleh tirtha amertha. Rangkaian ini memberi pesan kepada kita bahwa kita di dunia harus memutar roda kehidupan di arah yang benar. Jika kita sudah sesuai dengan arah yang benar maka akan mendapatkan Amertha,sebaliknya jika salah memutar roda kehidupan akan mendapatkan Wisaya (Racun).

Di hari Sabtu, 17  Maret 2018 persembahyangan Saraswati dilaksanakan pukul  02.00 dini hari yang dipimpin oleh Jero Mangku Made. Hal ini dilaksanakan sesuai dengan himbauan Bhisama Parisada Hindu Dharma Indonesia bahwa pelaksanaan sembahyang Hari Raya Saraswati harus dilaksanakan sebelum pukul 06.00 WIB. Karena selanjutnya umat Hindu melaksanakan catur Bratha Penyepian yaitu :

1. Amati Gni atau Tidak Menyalakan Api, Hal ini sebagai simbolisasi bahwa umat Hindu harus senantiasa mengendalikan emosi.

2.Amati Karya atau tidak bekerja. Hal ini merupakan simbolisasi bahwa kita umat Hindu harus senantiasa mengendalikan tingkah laku.

3. Amati lelungan atau tidak bepergian sebagai simbol bahwa kita harus senantiasa mengendalikan pikiran yang liar.

4. Amati Lelanguan atau tidak bersenang senang. Merupakan simbolisasi bahwa kita harus mengendalikan nafsu atau keinginan duniawi.

Kami berharap bahwa setelah melaksanakan rangkaian upacara dan melaksanakan catur bratha penyepian, kita umat Hindu senantiasa mendapatkan kedamaian lahir dan bathin serta Guyub Rukun menyongsong masa depan yang lebih baik.

SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA 1940 & HARI RAYA SARASWATI.

*Om Shantih Shantih Shantih Om*


Selasa, 06 Maret 2018

Kegiatan PHBS dan GERMAS Menyambut Hari Raya Nyepi

Kegiatan PHBS dan GERMAS Menyambut Hari Raya Nyepi


Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 masih beberapa Minggu lagi, namun suasana perayaan sudah mulai terasa. Di beberapa daerah Umat Hindu sudah mulai melaksanakan beberapa upacara yang terkait dengan Nyepi antara lain terlihat di DI. Yogyakarta yang melaksanakan Upacara Melasti di Pantai Ngobaran dan Upacara Labuhan ( Giri Kethi) di Gunung Merapi, Yogyakarta. Sekaligus penanaman pohon, sebagai wujud bhakti umat hindu dan penjagaan terhadap alam semesta. Selain itu didaerah lain, umat Hindu banyak yang mempersiapkan Ogoh-Ogoh untuk pelaksanaan Tawur Agung. Ogoh-Ogoh merupakan salah satu sarana Tawur Agung yang berbentuk raksasa menyeramkan. Hal itu sebagai simbolisasi sifat-sifat negatif manusia yang harus dikendalikan. 

Suasana tersebut juga terasa sampai di Ibu Kota. Panitia Perayaan Hari Raya Nyepi Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat sebagai lembaga tertinggi Hindu memiliki beberapa program dan acara dalam menyambut hari raya Nyepi tahun ini. Pada hari Minggu, 25 Pebruari 2018 dilaksanakan Bhakti Sosial, Yoga Massal dan Penghijauan di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Gunung Salak.  Dalam kegiatan ini diawali Yoga Massal yang dipandu oleh 25 Instruktur Yoga yang sudah berpengalaman. Instruktur ini berasal dari perkumpulan yoga Markandeya. Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman pohon disekitar Pura Parahyangan Agung Jagatkarta.
Agenda selanjutnya adalah  evaluasi dan pembinaan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), PUTAR (Pura Tanpa Asap Rokok) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Parisada Hindu Dharma Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan membentuk tim penilai dan pembina lomba PHBS untuk 27 Pura dan Pasraman di 3 Wilayah yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Kegiatan ini serentak dilaksanakan pada Minggu, 4 Maret 2018 dari jam 08.00 s.d selesai. Berikut Tempat Ibadah yang dinilai :
1. Pura Kerta Jaya Tangerang
2. Pura Parahyangan Jagat Guru BSD
3. Pura Parahyangan Buana Raksati, Sodong, Tigaraksa
4. Pura Dharma Sidhi Karya Ciledug
5. Pura Merta Sari Rempoa
6. Pura Eka Wira Anantha, Serang
7. Pura Giri Kusuma Bogor
8. Pura Bumi Natha Sakti, Kedung Halang, Bogor
9. Pura Angkasa Amertha Dharma Jati, Lanud Atang Sanjaya
10. Pura Raditya Dharma, Cibinong
11. Pura Satya Loka Arcana, Ciangsana
12. Pura Agung Tirtha Bhuana, Bekasi
13. Pura Amerta Jati, Cinere
14. Pura Tri Buana Agung, Depok
15. Pura Prajapati Purna Pralina, Depok
16. Pura Aditya Jaya Rawamangun
17. Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma
18. Pura Penataran Agung Kertha Bumi, TMII
19. Pura Widya Dharma Bumi, Cibubur
20. Pura Mustika Dharma, Cijantung
21. Pura Ksatriya Loka, Pomad Kalibata
22. Pura Widya Mandala Lenteng Agung
23. Pura Agung Wira Dharma Samudra, Marinir Cilandak
24. Pura Wira Satya Buana, Tanah Abang
25. Pura Candra Prabha, Jelambar
26. Pura Segara, Cilincing
27. Pura Dalem Purnajati, Tanjung puri, Cilincing.

Berikut beberapa liputan yang kami dapat dari grup Germas 2017:
 
Tim Penilai di Pura Angkasa Amertha Dharma Jati, Lanud Atang Sanjaya-Bogor
Tim Penilai di PuraTri Buana Agung, Depok

Tim Penilai di Pura Amerta Jati, Cinere
Tanggal 25 Maret 2018 mendatang, akan diadakan kegiatan Yoga Massal bertajuk " SAKA YOGA FESTIVAL  dimana akan dilaksanakan Yoga, Penyuluhan Anti Narkoba dan Donor Darah bertempat di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur. Menurut informasi yang kami dapatkan, akan dihadiri oleh Menteri Kesehatan; Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K). Selain itu pesertanya mencapai 2000 Orang. Kegiatan dimulai pukul 06.00 WIB - selesai. Tentu hal itu tidak boleh kita lewatkan. Ayo kita bersama dengan keluarga datang karena Sehat itu berawal dari kita. Untuk Undangannya  terlampir dibawah ini. (suksme).